BERIMAN DAN BERILMU DALAM BERAMAL

Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad SAW

Sayup – sayup  terdengar suara orang mengaji. Suara ayat Alquran itu kian jelas saat memasuki halaman SMPN 2 Gedeg. Beberapa siswi mengenakan jilbab yang berlalu lalang di depan sekolah kian menunjukkan kesan agamis sekolah di Gedeg bagian Timur itu.

Suara orang mengaji itu ternyata bersumber dari halaman sekolah bagian tengah.Mereka tampak serius menyimak ayat Alquran. Alunan bacaan melalui pengeras suara itu menyebar ke semua lingkungan sekolah. Bahkan terdengar jelas hingga perkampungan warga. ”Hari ini bersamaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, makanya kami optimalkan untuk kegiatan keagamaan,” terang Kepala SMPN 2 Gedeg Drs.SUROSO,M.Si, kemarin.

Dikatakan, pihaknya sengaja menghadirkan nuansa agamis di sekolah saat maulid. Tujuannya, agar siswa secara alamiah dan komprehensif memahami pesan moral pada perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW itu. ”Kami berharap sehari ini benar-benar memberi kesan bagi siswa sehingga terinternalisasi pada diri mereka,” ujarnya.

Pendidikan moral menurut Budi tak hanya dilakukan saat maulid. Hampir setiap hari pihaknya menggelar berbagai kegiatan keagamaan di luar mata pelajaran formal. Seperti salat jamaah dan kegiatan sholat taraweh sebulan penuh setiap ramadhan di musholla sekolah. ”Pihak sekolah sudah berusaha maksimal, meski memang masih ada siswa yang membuat kesalahan. Hanya, jangan sampai akibat nila setitik rusak susu sebelanga,” katanya berperibahasa.

Nuansa agamis tak hanya terlihat di halaman sekolah. Di ruang-ruang kelas juga terlihat kegiatan bernuansa agama. Seperti di ruang kelas tiga yang dipadati siswa yang mengikuti lomba kaligrafi. Khusus seni kaligrafi ini, siswa beradu kreativitas menggoreskan ayat Alquran dengan berbagai seni huruf dan pewarnaan. ”Tidak ada memang pelajaran khusus kaligrafi, tapi kami banyak yang suka,” kata Shinta Puspitasari, salah satu siswi.

Kaligrafi yang dibuat para murid itu pun tak sembarangan. Ada tiga tahap yang harus mereka lakukan. Mulai pembuatan skema menggunakan pensil, pewarnaan dasar, hingga penguatan warna menggunakan cat air. ”Selain keindahan kaligrafi, siswa juga dituntut memahami makna tulisan itu,” kata Abdulatif Zaki, salah seorang guru.

Menurut Abdullatif, selain kegiatan lomba tartil dan kaligrafi, pihaknya juga menggelar lomba pidato. Berbeda dengan pidato biasa, peserta dituntut pidato di halaman sekolah dengan disaksikan ratusan siswa. Tema yang diambil khusus tentang Maulid Nabi. ”Peserta selain faham materi juga harus mampu dalam penguasaan panggung, karena pidatonya secara terbuka,” pungkasnya

ekolah di Gedeg bagian Timur itu.

Suara orang mengaji itu ternyata bersumber dari halaman sekolah bagian tengah.Mereka tampak serius menyimak ayat Alquran. Alunan bacaan melalui pengeras suara itu menyebar ke semua lingkungan sekolah. Bahkan terdengar jelas hingga perkampungan warga. ”Hari ini bersamaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, makanya kami optimalkan untuk kegiatan keagamaan,” terang Kepala SMPN 2 Gedeg Drs.SUROSO,M.Si, kemarin.

Dikatakan, pihaknya sengaja menghadirkan nuansa agamis di sekolah saat maulid. Tujuannya, agar siswa secara alamiah dan komprehensif memahami pesan moral pada perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW itu. ”Kami berharap sehari ini benar-benar memberi kesan bagi siswa sehingga terinternalisasi pada diri mereka,” ujarnya.

Pendidikan moral menurut Budi tak hanya dilakukan saat maulid. Hampir setiap hari pihaknya menggelar berbagai kegiatan keagamaan di luar mata pelajaran formal. Seperti salat jamaah dan kegiatan sholat taraweh sebulan penuh setiap ramadhan di musholla sekolah. ”Pihak sekolah sudah berusaha maksimal, meski memang masih ada siswa yang membuat kesalahan. Hanya, jangan sampai akibat nila setitik rusak susu sebelanga,” katanya berperibahasa.

Nuansa agamis tak hanya terlihat di halaman sekolah. Di ruang-ruang kelas juga terlihat kegiatan bernuansa agama. Seperti di ruang kelas tiga yang dipadati siswa yang mengikuti lomba kaligrafi. Khusus seni kaligrafi ini, siswa beradu kreativitas menggoreskan ayat Alquran dengan berbagai seni huruf dan pewarnaan. ”Tidak ada memang pelajaran khusus kaligrafi, tapi kami banyak yang suka,” kata Shinta Puspitasari, salah satu siswi.

Kaligrafi yang dibuat para murid itu pun tak sembarangan. Ada tiga tahap yang harus mereka lakukan. Mulai pembuatan skema menggunakan pensil, pewarnaan dasar, hingga penguatan warna menggunakan cat air. ”Selain keindahan kaligrafi, siswa juga dituntut memahami makna tulisan itu,” kata Abdulatif Zaki, salah seorang guru.

Menurut Abdullatif, selain kegiatan lomba tartil dan kaligrafi, pihaknya juga menggelar lomba pidato. Berbeda dengan pidato biasa, peserta dituntut pidato di halaman sekolah dengan disaksikan ratusan siswa. Tema yang diambil khusus tentang Maulid Nabi. ”Peserta selain faham materi juga harus mampu dalam penguasaan panggung, karena pidatonya secara terbuka,” pungkasnya

Iklan