BERIMAN DAN BERILMU DALAM BERAMAL

Senyum sapa dan salam

Pagi itu Pak Mahmud dimumetkan dengan masalah keluarganya. Isterinya narah-marah, biasa masalah klasik “kekurangan uang belanja”. Anaknya bertengkar memperebutkan pensil. Walaupun pertengkaran kecil, tetapi memusingkan kepalanya. Pak mahmud meninggalkan kesemerawutan dikeluarganya, ia menancap gas menuju tempat mengajar. Perjalanan Pak mahmud dipenuhi wajah cemberut dan serius. Otaknya pun berputar-putar memikirkan masalah rumah tangganya. Sampai di gerbang sekolah, tampak anak-anak berseragam biru putih berduyun-duyun memasuki gerbang. Pak Mahmud memperlambat laju sepeda motornya, dan membuka kaca helmnya. Pak mahmud! Seru seorang anak. Assalamualaikum! Sambil tersenyum anak-anak menyapa dan menyalami tangan Pak mahmud. Pak Mahmud menjawab salam dan pada akhirnya harus pula tersenyum. Suatu keajaiban terjadi. Kedumelan hati Pak Mahmud menjadi hilang dan kemumetan rumah pun terlupakan. Dengan muka berseri, kini Pak Mahmud memasuki ruang guru dan menyapa, memberi salam, dan tersenyum pada rekan-rekan guru yang terlebih dahulu datang. Ajaibnya, seakan melupakan segala kerumetan di rumah tangganya, Pak Mahmud pun dengan semangat masuk ke kelas, menyapa, memberi salam, dan tersenyum pada muridnya.

Apa yang dialami Pak mahmud mungkin kita alami pula. Sapa, salam, dan senyum adalah perbuatan yang sepele dan sangat kecil. Tetapi perbuatan tersebut mampu menyembuhkan kekesalan, kegundahan, dan bahkan kesedihan. Keajaiban apa yang ada pada sapa, salam, dan senyum?

Otak dan pesan bahagia

Otak manusia mempunyai pengantar pesan sedih (sad messengers) dan pengantar pesan bahagia (happy messengers). Bila dalam keadaan tertekan dan sedih, otak akan menerima pesan sedih. Sebaliknya dalam keadaan senang dan gembira, otak akan menerima pesan bahagia. Pesan bahagia ini ada tiga macam yaitu serotinin, norodrenalin, dan doparmine. Serotinin dalam otak mengatur jam biologis kita agar bekerja sebagaimana mestinya. Serotinilah yang membuat kita tertidur pada jam tidur. Pesan bahagia “serotinin” membuat kita dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya kondisi tertekan membuat kita tidak dapat tidur, sehingga serotinin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Norodrenalin membuat tubuh merasa segar. Norodrenalin bekerja ketika pikiran kita membayangkan hal-hal yang membahagiakan, sehingga membuat kita bersemangat. Dopamine bekerja untuk membuat kita menikmati hidup dan mengurangi rasa sakit. Dopamine sering disebut sebagai pembunuh alami rasa sakit “natural pain killer”.

Tiga pesan tersebut dapat diaktifkan secara eksternal dan internal. Secara eksternal misalnya dengan minum minuman penyegar seperti teh, coklat, dan kopi. Tetapi efek dari minuman seperti ini hanya sementara saja, setelah selesai minum pikiran sedih, tertekan, dan bahkan stress akan timbul kembali. Cara yang paling ampuh dan bertahan lama adalah secara internal, yaitu dengan senantiasa berpikir positif. Berpikir positif artinya senantiasa menganggap masalah yang ada dan menimpa diri kita adalah bagian dari ujian hidup. Masalah pun merupakan ujian keimanan. Keberhasilan mengatasi ujian hidup, akan mempertebal iman. Sehingga masalah hidup adalah ladang ibadah dan amal shaleh untuk mempertebal iman. Orang yang berpikir positif seperti ini, akan bergembira dengan masalah. Berpikir positif diartikan pula menganggap setiap masalah sebagai sebuah tantangan untuk dipecahkan. Jadi masalah bagi penyuka tantangan ibarat teka teki silang atau menaklukkan ketakutan seperti di “fear factor”. Keberhasilan memecahkan teka teki silang tentu sangat menyenangkan. Jadi datangnya masalah berarti tantangan untuk ditaklukan bukan dihindari. Secara internal dan eksternal terapi senyum, sapa, dan salam pun terbukti mampu mengaktiftan ketiga pesan ini, seperti kasus Pak Mahmud di atas. Senyum, sapa, dan salam tulus dari muridnya mampu menghilangkan kerumetan rumah tangganya. Ketika senyum, sapa, dan salam ditebarkan kembali pada yang lain, norodrenalin bekerja membangkitkan semangat untuk bekerja dan melupakan kesemerawutan keluarganya tadi pagi.

Senyum, sapa, salam menurut berbagai kalangan

Sudah sejak lama senyum, sapa, dan salam dikumandangkan. Bahkan pada abad ke tujuh masehi, Nabi Muhammad SAW mengeluarkan banyak hadits tentang salam, diantaranya adalah “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencinta. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencinta? Sebarkan salam diantara kalian (HR. Muslim). “Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda, “Yang berkendaraan lebih dahulu mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki; yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan rombongan yang sedikit mengucapkan salam kepada rombongan yang banyak.” (HR. Muslim). Bahkan salam adalah perkataan yang paling banyak didengar di surga nanti, seperti firman Alloh dalam Al Quran “Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam syurga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di syurga itu tiap-tiap pagi dan petang.” (QS. Maryam: 62). Begitulah salam, sehingga wajar jika Iwan Fals pun begitu menganjurkan untuk menyebarkan salam, karena menyebarkan salam berarti juga menyebarkan cinta. “Sebarkan salam, sebarkan cinta” begitu slogan yang tertulis di situs Iwan Fals. Sebuah sapaan dengan mengucapkan salam yang kemudian diiringi senyuman. Sungguh luar biasa. Nilai sebuah senyuman pun sangat besar. Nilai senyuman sama dengan sedekah, seperti sabda Nabi Muhammad SAW “Senyum adalah shadaqoh

Senyum, sapa, salam bagi murid

What the teacher is, is more important than what he teaches (Karl Menninger). Ternyata apa yang guru lakukan lebih penting dari apa yang diajarkannya. Tingkah laku seorang guru yang menyambut anak-anaknya dengan senyuman, kemudian mengucapkan salam kepada muridnya dengan lembut, “assalamualaikum!”, dan menyapanya, “Apa kabar ananda hari ini?” tentu akan sangat mengesankan bagi muridnya. Senyum, sapa, dan salam guru di pagi hari memberikan sejuta kebahagiaan dan kesan yang tidak terlupakan bagi muridnya. Semua murid akan senang dengan senyuman seorang guru, seperti yang diungkapkan Santi Wistalah, siswa Siswa SMPN 2 Gedeg., „Belia senang kan kalo liat gurunya senyum?”. Sebuah senyuman dan keramahan, seorang guru bisa membangkitkan semangat murid untuk belajar, karena dalam suasana hati yang senang biasanya otak seseorang bisa bekerja sehingga murid bisa belajar dengan relax tanpa adanya tekanan. Senyuman seorang guru, membuat siswa tergugah dan terbangkitkan semangat belajarnya. Guru yang murah senyum, tentu akan terbuka untuk kerja sama dengan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Senyum membuat tipisnya tabir hubungan antara guru dengan siswa. Pada gilirannya belajar di kelas menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan.

Sedekah yang paling ringan adalah menebarkan senyuman, memberi kebahagian dengan salam dan sapa terhadap sesama, juga pada anak-anak kecil yang itu adalah murid kita sendiri. Niscaya amalan yang dianggap sepele dan kecil ini, jika dilakukan dengan ikhlas dan tulus akan jadi catatan kebaikan yang sangat besar. Seperti hadits Nabi “Jangan meremehkan perbuatan kebaikan sesuatupun, walau sekadar menyambut kawan dengan muka yang manis”. Jadi ayo guru Indonesia, kita budayakan senyum, salam, dan sapa!

Iklan

Komentar ditutup.